Seminar Nasional CORISINDO 2021

01-09-2021

Sabtu 28 Agustus 2021, CORIS bekerja sama dengan IndoCEISS menyelenggarakan “Seminar Nasional CORISINDO 2021” dengan Universitas Raharja sebagai tuan rumah. Ini merupakan kali kedua Universitas Raharja memperoleh kehormatan untuk menjadi tuan rumah di mana yang pertama pada tahun 2017 silam. Acara yang diselenggarakan setahun sekali tersebut berlangsung secara daring.

Acara ini dibuka dengan sambutan-sambutan oleh Dr. Po. Abas Sunarya, M.Si selaku Rektor Universitas Raharja, lalu Dr. Dadang Hermawan, SE., MM., Ak. sebagai Ketua CORIS, kemudian Dr. Ir. Djoko Soetarno, DEA selaku Pembina CORIS, dan Prof. Ir. Zainal A. Hasibuan, Ph.D. yang merupakan Ketua APTIKOM.

Ada beberapa poin penting yang disampaikan dalam sambutan, seperti pengumuman sejumlah 227 paper yang terkumpul, dan hanya 205 paper saja yang diterima. Serta lebih dari delapan kategori lomba yang mayoritas diisi oleh anggota CORIS. Selain itu juga disampaikan bahwa jika tidak ada aral melintang, “Seminar Nasional CORISINDO 2022” mendatang akan diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 11 Agustus 2022 dengan ITB Stikom Bali sebagai tuan rumah.

Dalam sambutan tersebut, Dr. Ir. Djoko Soetarno, DEA menyampaikan bahwa pada bulan Oktober nanti setidaknya akan ada dua acara. Pertama, pengukuhan Prof. Dr. Kusrini, M.Kom (Sekretaris Jenderal CORIS) sebagai Guru Besar Universitas AMIKOM Yogyakarta pada Senin 11 Oktober 2021, sekaligus acara syukuran oleh CORIS di Yogyakarta. Kedua, penyelenggaraan PEKSIS, yang merupakan kepanjangan dari Pekan Seni CORIS. Ini merupakan lomba mahasiswa non akademis dengan Universitas AMIKOM Purwokerto yang menjadi tuan rumah, sebagai persiapan menuju PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) yang merupakan kompetisi di bidang seni bagi mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud.

Pada sambutan terakhir, Prof. Ir. Zainal A. Hasibuan, Ph.D. menyampaikan bahwa LAM INFOKOM sudah memiliki SK Pendirian, tetapi belum memiliki SK Operasional. Maka dari itu, bersama Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D (Ketua Umum INDOCEISS & Direktur Eksekutif LAM INFOKOM) beliau terus mengupayakan kelengkapan dokumen agar LAM INFOKOM segera memperoleh SK Operasional. Beliau juga menyatakan tentang pentingnya penelitian untuk menyambut masa depan, dan adanya CORIS sebagai wadah penelitian merupakan kontribusi yang memiliki dampak nasional. Menurut beliau, riset harus terus bergerak. “Pertama, jangan sampai kita diperbudak oleh teknologi, tetapi kita yang harus menjadi master di bidang teknologi. Jadi kita harus benar-benar bisa memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin untuk memecahkan masalah keseharian kita. Kedua, kita ciptakan teknologi yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan kita. Ketiga, tunjukkan ke dunia internasional bahwa selain menguasai IPTEK, kita juga menguasai teknologinya. Sehingga negara-negara lain melihat bahwa Indonesia bisa. CORIS bisa,” pungkas beliau.

Ada tiga pembicara dalam acara “Seminar Nasional CORISINDO 2021” ini. Pembicara pertama ialah Prof. Dra. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D selaku Ketua Umum INDOCEISS & Direktur Eksekutif LAM INFOKOM. Beliau membawakan tema “Masyarakat Edukasi Dalam Pembangunan Melalui Riset dan Pengabdian Masyarakat” dalam presentasinya. Diawali dengan menyampaikan jumlah dosen di Indonesia yang menurut data PDDikti ada 296.040 orang. Beliau mengimajinasikan; seandainya dalam sehari setiap dosen menyisihkan satu jam saja untuk penelitian, maka akan ada 296 jam per hari untuk penelitian. “Ini tentu saja akan menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa, karena manusia memiliki keterbatasan atas pengetahuan, dan pemahaman serta kemampuan. Sehingga, dasar daripada itu, manusia juga ingin melakukan sesuatu untuk menambah pengetahuan, pemahaman dan kemampuan. Kemudian pemenuhan rasa ingin tahu, karena manusia memiliki dorongan rasa ingin tahu yang lebih luas,” tambah beliau.

Penelitian memiliki dampak yang luar biasa, karena menghasilkan output yang sifatnya seketika, dan dari output tersebut juga akan menghasilkan outcome yang sifatnya jangka panjang. Bila pada suatu institusi penelitiannya banyak, pasti institusi tersebut juga akan memiliki rekognisi dari masyarakat. Berulang kali beliau menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, tetapi juga ada daerah-daerah yang lain. Permasalahan di Jakarta tentu tidak sama dengan permasalahan di daerah lain. Untuk itu, beliau mendorong adanya pengabdian masyarakat, dan kegiatan yang bisa menajamkan soft skill mahasiswa. 

Pembicara kedua ialah Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, yang merupakan Rektor Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS). Beliau membawakan tema “Riset yang Menghasilkan Nilai Bisnis” dalam presentasinya, yakni tentang bagaimana menghasilkan penelitian yang memiliki nilai bisnis dan berumur panjang. Pada kesempatan tersebut beliau menceritakan tentang hasil penelitian Tim Peneliti LPPM UDINUS pada tahun 2009 berupa e-Gamelanku, salah satu Hasil Keluaran Penelitian Hibah Strategi Nasional yang didanai oleh DIKTI tahun 2009 dan 2010 dengan nomor perjanjian 390/SP2H/PP/DP2M/VI/2009. e-Gamelanku merupakan salah satu inovasi yang direalisasikan untuk menyelamatkan gamelan dari kepunahan. Sebuah bentuk virtualisasi dari obyek dan rekaman suara yang diambil dari Gamelan Kyai Sri Kuncoro Mulyo Lokananta Surakarta. Produk ini pernah mendapat Hibah Seni dan dipentaskan di CYCU Taiwan, Universiti Kebangsaan Malaysia, Singapura, 8-11 Show Metro TV, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Paris, Prancis.

Hingga artikel ini ditulis, usia e-Gamelanku sudah dua belas tahun, dan masih terus-menerus dilakukan pembaharuan. Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom memaparkan bahwa ada empat hal yang dicapai oleh hasil penelitian ini: pertunjukan, menghasilkan 167 Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI), jurnal internasional untuk mahasiswa dan dosen, serta pengabdian masyarakat. Menurut beliau, pandangan industri tidak sama dengan hasil penelitian. Industri perlu penelitian, tetapi dalam pandangan industri (mereka) butuh jawaban bagi pertanyaan:

“Apakah penelitian itu punya pasar yang kuat? Bagaimana bahan bakunya? Tenaga kerja? Alat teknologi? Lahan bangunan yang harus disiapkan? Berapa modal yang harus disiapkan? Bagaimana dengan pesaing? Berapa keuntungan per bulan? Dan seterusnya.”

Beliau juga menjelaskan bahwa e-Gamelanku telah mengalami banyak hambatan, mulai dari penelitian, lalu proses development, sampai menjadi sebuah produk. Saat ini aplikasi e-Gamelanku sudah tersedia di Playstore, Blackberry, dan Appstore.

Pembicara ketiga ialah Assoc. Prof. Dr. Ir. Untung Rahardja, M.T.I., M.M dari Universitas Raharja, Indonesia. & Universiti Teknologi Malaysia, Malaysia. Beliau membawakan tema “World Class Professor 2021” dalam presentasinya. Sebuah program yang baru saja mendapat suntikan hibah dana sebesar seratus tujuh puluh juta rupiah. Beliau memaparkan tentang hibah dan publikasi internasional. “Tanpa publikasi internasional, kita akan kesusahan untuk memperoleh hibah. Sebaliknya, hibah yang dicapai juga dituntut untuk melakukan publikasi internasional,” katanya.

Riset internasional Assoc. Prof. Dr. Ir. Untung Rahardja, M.T.I., M.M ialah tentang blockchain dan manajemen teknologi informasi. Sebuah temuan dari seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto yang menginginkan sistem desentralisasi, permanen dan publik untuk merekam pembuatan serta distribusi Bitcoin. Blockchain merupakan teknologi baru yang dikembangkan untuk sistem penyimpanan data digital. Teknologi ini terhubung melalui kriptografi, dan penggunaannya sendiri tak bisa lepas dari mata uang Bitcoin dan Cryptocurrency. “Blockchain itu irisan empat ilmu yang mendalam: akuntansi, kriptografi, matematika, dan ilmu komputer,” tambahnya. Beliau juga mendorong akan adanya kerja sama, karena hanya dengan kolaborasi, ekosistem blockchain untuk kemajuan bangsa Indonesia potensial untuk diwujudkan. Kini beliau sedang beralih ke renewable energy atau energi terbarukan, di mana baru saja mendapat hibah dari “Kedaireka Matching Fund” sebesar 1,5 milyar. Sebuah bentuk nyata berupa dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia untuk penciptaan kolaborasi dan sinergi strategis antara Insan Dikti (lembaga perguruan tinggi) dengan pihak Industri.